Tulungagung, Relaksasi peningkatan ekonomi bagi masyarakat di masa pandemi juga acap kali diikuti dengan pertambahan jumlah pengunjung di satu lokasi wisata, kondisi ini juga berpotensi di Tulungagung.

Berdasarkan pantauan tim liputan, imbas libur panjang yang terjadi pada dua minggu yang lalu juga berpotensi menjadikan gelombang lanjutan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Tulungagung.

Beruntung dengan pengetatan protokol kesehatan di lokasi wisata, bagi pengunjung, penggiat wisata, dan semua masyarakat yang beraktifitas di dalamnya, lonjakan tersebut tidak ditemukan.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Tulungagung, Galih Nusantoro kemarin.

Menurutnya, dari 200an pelaku wisata yang menjalani rapid test usai libur panjang kemarin, hasilnya semuanya non reaktif, pihaknya juga tidak menerima laporan pelaku wisata yang mengeluhkan tanda tanda terimbas Covid-19.

“200 pelaku wisata yang kita rapid, mulai dari pokdarwis, tukang warung, tukang parkir sampai yang menyewakan wahan wahana di lokasi wisata itu semuanya non reaktif,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan kekhawatiran penyebaran covid19 selama libur panjang kemarin tidak terbukti.

Selain itu kedisiplinan pelaku wisata, pengunjung dan semua pihak yang terlibat dalam penanganan Covid19 ini perlu diapresiasi, tak terkecuali petugas kepolisian yang menyiagakan anggotanya dilokasi lokasi wisata.

“Tentu ini karena kedisiplinan semua pihak untuk menerapkan protokol kesehatan di lokasi wisata selama libur kemarin, ” jelasnya.

Sementara itu Paur Humas Polres Tulungagung, Iptu Neny Sasongko yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya terus memberikan sosialisasi secara maksimal kepada masyarakat.

Baik secara langsung dengan turun ke lokasi lokasi perkumpulan masa kemudian aktif mengupload nya melalui media sosial, hingga aktif mengkampanyekan protokol kesehatan melalui lagu EGP yang diputar di simpang empat yang ada di Tulungagung.

“Seperti hari minggu ini ketika musim liburan, kita juga share giat kita bagi2 masker dan himbauan agar menerapkan prokes kepada masyarakat melalui media sosial,” terangnya.

Lagu EGP sendiri merupakan kependekan dari Enggak boleh ngelawan petugase, Gaween maskermu timbang keno dendo selawe ewu dan Patuhi protokol kesehatan.

“Untuk lagu memang diputar di simpang empat kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dari Gugus Tugas yang disampaikan melalui pesan suara,” ungkap Neny.

Pihaknya yakin dengan sosialisasi yang massive seperti ini, peningkatan ketaatan masyarakat dalam penggunaan masker bisa terus terjadi di masa pandemi ini.

Komentar

By restu