Lomba Poskamling : Menggugah Semangat Kamtibmas di Pedesaan

Berbagai cara dilakukan aparat penegak hukum kepolisian di lingkup Resor Tulungagung guna meningkatkan peran kamtibmas. Salah satu program yang barusan digelar itu adalah Lomba Poskamling di seluruh kecamatan yang ada di daerah ini, serentak.

Kapolres Tulungagung, AKBP Bastoni Purnama melalui Kasat Binmas AKP Slamet Hariyoso menjelaskan, tujuan diadakannya lomba poskamling di antaranya adalah untuk pemberdayaan poskamling sebagai markas komando keamanan lingkungan. Pihaknya berharap, program kamtibmas yang digagas kepolisian ini bisa merangsang poskamling-poskamling yang ada di seantero Tulungagung untuk aktif kembali dengan fungsi yang semestinya, mengingat selama ini cenderung vakum dan hanya menjadi bangunan kosong tanpa guna.

“Jadi kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban di lingkungan masingmasing desa, serta mengaktifkan kembali pos keamanan lingkungan (kamling) yang selama ini banyak yang terlihat kumuh serta tidak terawat karena sudah hilang dari fungsi sebagaimana mestinya,” kata Slamet kepada tim Restu. Pelaksanaan lomba itu sendiri dilakukan dengan menggandeng jajaran muspika di 19 Kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Masing-masing muspika kemudian diminta merekomendasikan minimal satu poskamling percontohan untuk diikutkan dalam lomba tersebut. Selain bertujuan mengaktifkan kembali pos ronda di setiap desa, kata Slamet, kegiatan yang mereka gelar juga bertujuan menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan lingkungan di daerah sekitar tempat tinggal mereka.

Meningkatnya kesadaran kolektif dalam hal kamtibmas ini menjadi kunci utama terciptanya keamanan lingkungan, baik dari gangguan yang bersifat kriminalitas, hingga ancaman terorisme. Masyarakat didorong untuk menjadi ”polisi” bagi diri sendiri maupun lingkungan mereka . “Suasana guyub rukun antarlingkungan akan membawa satu kondisi masyarakat yang ayem tentrem dan mulyo tinoto seperti falsafah yang diusung Pemkab Tulungagung. Karena tidak hanya masalah keamanan lingkungan, warga juga memiliki semangat gotong royong manakala terjadi musibah ataupun bencana di daerah masing-masing,” ujarnya.. Slamet menjelaskan, ada beberapa point penilaian lomba poskamling yang mereka gelar, antara lain  meliputi perlengkapan poskamling, perlengkapan perorangan, serta kemampuan perorangan.

Kegiatan tersebut disambut antusias warga yang ingin ikut berperan serta dalam lomba. Setiap kelompok ronda yang menjadi peserta lomba poskamling ini bahkan telah memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam mempraktekkan tata cara menangkap seorang pencuri ataupun tindak pidana lainnya dengan cara yang benar tanpa bertindak main hakim sendiri. “Antusias warga terlihat ketika memperankan, penangkapan terhadap seorang pencuri,” paparnya. Selain kegiatan peragaan menangkap seorang pencuri, warga juga diajarkan bagaimana tata cara memukul kentongan. Karena masyarakat sekarang ini sudah bayak yang lupa bagaimana irama memukul kentongan ketika ada suatu kejadian di desa. Mulai dari kejadian pembunuhan, perampokan, bencana alam, kebakaran, laka lantas, keributan, hingga dalam kondisi aman juga ada irama kentongan. “Warga juga diberikan sosialisasi tentang tata cara memukul kentongan karena masyarakat sekarang banyak yang sudah lupa,” jelasnya. Menurut Slamet, kegiatan ini sangatlah bermanfaat bagi seluruh warga desa, dengan adanya kegiatan tersebut maka pos kamling yang dulunya hanya untuk tempat berteduh sekarang aktif kembali sebagaimana fungsi semestinya.

Hal itu seperti yang diutarakan beberapa warga yang hadir pada malam penilain lomba. Kepala Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Mugiyanto, misalnya, mengatakan bahwa lomba poskamling telah menjadi stimulan bagi warga untuk mengaktifkan lagi kegiatan ronda bersama. “Saya sebagai kepala desa sangatlah senang dengan adanya kegiatan tersebut, karena menggugah semangat warga tentang pentingnya keamanan,” ungkapnya. Ia mengakui, selama ini poskamling yang berada di lingkungannya belum bisa berfungsi optimal. Kendati selalu ada warga yang berjaga setiap malamnya, namun kegiatan administratif seperti pengisian buku tamu serta serah terima jadwal pergantian penjaga masih kurang terkoordinasi antarkelompok ronda.

“Untuk proses jadwal jaga sudah efektif dilakukan, namun untuk mengenai administrasi kurang begitu disiplin,” ujarnya. Mugiyanto menambahkan, di Desa tapan yang dia pimping juga diwajibkan bagi setiap rumah harus memiliki sebuah kentongan yang nantinya akan digunakan sebagai alat komunikasi atau alat yang berfungsi memberikan suatu informasi secara darurat kepada lingkungan sekitar. Namun sayang, masih banyak warga yang belum mengetahui bagaimana cara menggunakan atau memukul kentongan ketika sedang ada kejadian. Dengan adanya  kegiatan lomba siskamling ini, ia berharap warga menjadi lebih tahu tata cara memukul kentongan untuk setiap kode peristiwa yang ingin diinformasikan secara cepat kepada lingkungan. “Dengan adanya kegiatan lomba ini, sebagian warga jadi sedikit lebih tahu bagaimana cara untuk memukul kentongan,” pungkasnya.
poskamling2

 

Komentar