HARGA BERAS PUN BERANGSUR TURUN

Antisipasi Lonjakan Harga Beras, Pemkab dan Bulog Gelar Operasi Pasar

 

Setelah hampir sepekan digelar operasi pasar (OP) beras oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Tulungagung, terhitung sejak Jumat (27/2/2015), harga bahan pokok yang sempat melambung hingga tembus Rp12 ribu per kilogram itu berangsur turun di kisaran Rp200-500 per kilogramnya.

 

Klaim itu pertama kali dikemukakan Kepala Perum Bulog Subdivre Tulungagung, Supriyanto saat dikonfirmasi wartawan setelah hampir sepekan melakukan kegiatan operasi pasar bersama dinas perdagangan Kabupaten Tulungagung. Ia saat itu langsung memberi gambaran harga beras medium merek Koi yang sempat tembus harga Rp10.000 per kilogram kini turun menjadi Rp9.800.

 

“Normalisasi, meski masih terbatas, juga terjadi pada beras kelas medium dan premium lainnya,” kata Supriyanto saat itu.

Ia meyakini, penurunan harga beras dipengaruhi oleh kegiatan operasi pasar yang masif dilakukan Bulog bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari Supriyanto mengaku pihaknya menggelontor sedikitnya tiga ton beras untuk dijual dengan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp7.300 perkilogram untuk beras kelas medium.

“Untuk beras premium kami lakukan operasi pasar secara terbatas, dengan harga di bawah pasaran saat ini,” imbuhnya.

OP beras itu sendiri, kata Supriyanto, dikonsentrasikan di dua pasar tradisional di Tulungagung, yakni di Pasar Ngemplak sebagai pusat operasi pasar yang bersifat statis (menetap), serta pasar-pasar tradisional di masing-masing kecamatan yang dilakukan secara bergiliran. Mulai dari Pasar Ngunut, Campurdarat, Bandung, Kalangbret, Ngantru, Boyolangu, hingga sejumlah pasar tradisional yang ada di kecamatan-kecamatan pinggiran lainnya.

 

Volume yang digelontor menyesuaikan kebutuhan. Selama sepekan pertama pelaksanaan operasi pasar, volume beras yang digelontor pihak bulog mencapai sekitar tiga ton. Itupun jika dirasa masih kurang Supriyanto memastikan pihaknya siap menambah pasokan. “Stok beras kami cukup hingga enam bulan ke depan. Ada lebih dari 20 ribu ton, dan yakin ini cukup untuk menggelontor pasokan beras di pasaran sehingga harga yang kini melonjak bisa dinetralisir,” ujarnya.

Pelaksanaan OP itu sendiri rencananya akan dilakukan sampai harga beras di pasaran kembali normal, yakni di kisaran Rp 7.000-Rp8.500 per kilogram, sesuai kualitas beras. Penegasan itu disampaikan langsung oleh Bupati Syahri Mulyo yang melakukan pemantauan langsung kegiatan operasi pasar beras perdana di Pasar Ngemplak pada Jumat (27/2/2015).

“Kebijakan operasi pasar ini akan kami lakukan hingga beberapa hari ke depan, sampai harga beras kembali normal,” kata Syahri Mulyo saat memantau langsung pelaksanaan operasi pasar beras di Pasar Ngemplak.

 

Sementara untuk memaksimalkan operasi pasar ini, Syahri meminta Bulog dan dinas terkait untuk memperluas cakupan area ke beberapa pasar tradisional lain agar tujuan kegiatan tersebut optimal. “Selama harga beras masih mahal kita akan melakukan operasi pasar,” katanya.
Dalam operasi yang dilakukan di Pasar Ngemplak tersebut, pihak Bulog menjual beras dengan kualitas medium sesuai HET (Harga eceran tertinggi), yakni Rp7.300 per kilogram.  Patokan jauh lebih rendah dari harga beras di pasaran yang sempat menembus Rp12 ribu per kilogram untuk jenis premium dan Rp11 ribu per kilogram untuk kelas medium.

Operasi pasar itu sendiri disambut baik oleh warga. Kurang dari dua jam, beras bulog sebanyak satu ton telah habis dibeli oleh warga. Untuk memenuhi permintaan warga, Bulog kemudian mengambil beras lagi dari gudang sebanyak satu ton.

Salah satu warga, Evi mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi pasar tersebut. karena harga beras di pasaran yang semakin mahal. Untuk beras jenis Bramo saat ini harga tiap kilonya mencapai Rp11 ribu.  “Di sini harganya masih terjangkau jadi sangat terbantu dengan operasi pasar ini,” tuturnya.

Evi juga tidak terlalau mempermasalahkan kualitas beras yang dijual dalam operasi ini masih berada di bawah kualitas beras pasaran.  Menurutnya beras dari Bulog ini bisa bersih dan putih setelah diselip lagi. “Untuk rasanya tidak ada masalah selama beras masih bisa dibeli,” ujarnya.

Terkait kualitas beras yang digelontor untuk operasi pasar, Bupati Syahri memiliki pendapat lain.

Menurutnya, jenis beras yang dijual di OP sebaiknya memang difokuskan untuk kualitas medium atau setara dengan beras raskin. Harapannya, kata dia, agar semua lapisan masyarakat mampu untuk membelinya. “Kalau yang digelontor beras premium, justru kasihan masyarakat kelas menengah ke bawah keberatan untuk membelinya, karena jatuhnya tetap saja mahal,” jelasnya.

Syahri mengatakan, produk beras di Kabupaten Tulungagung sebenarnya mencukupi andai saja tidak diborong oleh pedagang luar daerah.

Komentar