Gerebek Gudang Pupuk NPK Palsu

Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tulungagung menggerebek gudang CV Bumi Agro Fertilizer yang diduga menjadi pabrik yang digunakan memproduksi pupuk ilegal di Desa Wadeng, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (31/1/2015). Operasi penggerebekan itu digelar tim reskrim sebagai tindak lanjut penangkapan tiga tersangka pengedar pupuk diduga ilegal di wilayah Tulungagung, beberapa hari sebelumnya (Kamis,29/1/2015).

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Edy Herwiyanta  yang memimpin langsung operasi penggerebekan bersama 10 anggota serse bidang pidana khusus (pidsus) itu mengatakan pihaknya telah melakukan pengintaian selama dua hari di lokasi kejadian. Setelah dipastikan lokasi pabrik yang digunakan memproduksi pupuk diduga ilegal merek Phonska itu, 10 anggota serse pidsus bersama Edy bergerak menuju Gresik dan langsung memeriksa gudang milik CV Bumi Agro Fertilizer tersebut. “Kami menemukan ada ribuan karung berisi pupuk berbagau merek yang siap edar,” paparnya.

Setelah memeriksa dan meminta keterangan awal kepada pemilik gudang, Su’ut, petugas kemudian menyita sejumlah barang bukti, yakni alat yang digunakan memproduksi pupuk, pan granul, sebuah molen, pengayak, serta 1.500 karung pupuk yang siap untuk edar. Edy menuturkan, Su’ut yang sementara ini masih berstatus saksi sempat dimintai keterangan tentang tata cara pembuatan pupuk serta bahan yang digunakan. ”Setelah proses pembuatan pupuk, hasil dari pembuatan pupuk tersebut dimasukkan ke dalam karung tanpa merek, kemudian tinggal menunggu orderan dari konsumen,” paparnya. Edy melanjutkan pendistribusian pupuk tergantung dari orderan konsumen. Diduga, pemilik perusahaan mempunyai stok karung yang berlainan merek untuk memenuhi permintaan konsumen. ”Diduga, pemilik perusahaan memiliki berbagai karung dengan merek yang berbeda,” jelasnya.
TANGKAP DISTRIBUTOR

Sebelum menggerebek gudang yang dicurigai memproduksi pupuk ilegal, satuan reserse dan kriminal telah menangkap dua orang distributor atai pengedar pupuk anorganik majemuk (NPK padat) yang diduga tidak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) atau ilegal. Pelaku ditangkap pada Kamis (29/1/ 2015) sekitar pukul 16.00 WIB saat mengedarkan pupuk yang tidak mengantongi izin produksi maupun izin edar di wilayah Tulungagung bagian barat dan utara. Kedua pria yang masih kakak beradik itu masing-masing bernama Abdul Aziz (26) dan Mohammad Zumain (22). Mereka mengaku berstatus sales pupuk merek phoska dan beralamat tinggal di Desa Kepoh, Kecamatan Kepoh Baru, Kabupaten Bojonegoro.

Selain menahan kedua pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti berupa satu unit mobil pikup jenis Grand Max warna hitam dengan nopol W 8790 M, 13 karung pupuk yang bertuliskan Phoska serta uang hasil penjualan total sebesar Rp7,769 juta. ”Mereka ditangkap jajaran serse Polsek Pagerwojo setelah mendapat laporan dari masyarakat tentang peredaran uang palsu di wilayah Pagerwojo dan sekitarnya,” papar Edy. Hasil penyelidikan sementara, diketahui pelaku telah berada di Tulungagung selama sepekan atau sejak Sabtu (24/1/2015).

Mereka indekos di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Trenggalek atau sekitar perbatasan Tulungagung-Trenggalek. Dalam melakukan pemasaran, Aziz dan Zumain berkeliling dari desa ke desa yang kebanyakan penduduknya petani untuk mengedarkan pupuk ilagal tersebut. Di hadapan polisi, keduanya mengaku telah beroperasi di wilayah Kecamatan Kalidawir, Boyolangu dan ditangkap di Pagerwojo. Hasilnya, selama sepekan pelaku berhasil menjual sekitar 150 karung pupuk phoska yang mirip dengan pupuk bersubsidi buatan PT Petrokimia Gresik merek phonska. ”Selama satu minggu pelaku berhasil menjual 150 karung pupuk,” jelasnya. Aziz dan Zumain mengaku jika pupuk tak ber-SNI tersebut didapat dari Nur Kamim (29), warga Desa Semampir, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Nur Kamim merupakan distributor pupuk diduga ilegal merek Phoska itu yang diambil dari pabrik di wilayah Gresik dengan harga Rp67 ribu per-karung. Orang yang disebut terakhir juga telah diperiksa polisi. Pupuk itu kemudian dijual ke Aziz dan Zumain dengan harga Rp80 ribu karung berisi 50 kilogram.  ”Pupuk ini dijual kedua pelaku dengan harga Rp100 ribu perkarung,” papar Edy. Di karung pupuk tersebut, lanjut dia, tertera tulisan ”pembenah tanah nonsubsidi” serta kandungan kimia produk yang terdiri natrium 1,5 persen, phospat 1,5 persen, kalium 1,5 persen namun tidak mencantumkan label SNI sebagaimana pupuk resmi/legal lainnya. Padahal sesuai ketentuan, setiap produk pupuk anorganik majemuk yang beredar di masyarakat harus mencantumkan kode SNI sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian nomor 8/M– IND/PER/2/2014. ”Kedua pelaku dijerat dengan pasal 60 ayat 1 huruf f jo pasal 37 ayat 1 UU RI no 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanam dengan ancaman lima (5) tahun kurungan penjara,” pungkasnya.

Komentar