Disnak Belum Tetapkan Penyebab Kematian Sapi

TULUNGAGUNG- Dinas Peternakan (Disnak) Tulungagung masih belum berani angkat bicara terkait penyebab matinya sapi warga di kawasan Pagerwojo. Hal ini mengakibatkan masyarakat kota marmer masih dihantui dugaan penyakit antraks yang menyerang sapi itu. Pihak Disnak hanya mengimbau masyarakat tetap waspada utamanya jika ada sapi yang mati mendadak.

Kepala Disnak Tulungagung Tatik Andayani menyatakan, pihaknya tidak berwenang menyampaikan positif atau tidaknya antraks yang mengakibatkan banyak sapi yang masti di Kecamatan Pagerwojo. Disnak hanya mengisyaratkan jika hasil uji laboratorium yang dilakukannya pada salah satu sapi yang mati mendadak menunjukkan negatif. “Kami tidak berwenang menyampaikan sapi itu mati karena posistif antraks atau tidak. Pemerintah pusat yang lebih berwenang menyampaikan,” ungkapnya kemarin (31/12).

Dikatakan Tatik, sapaan akrabnya, ciri yang ditemui di lapangan seperti mengeluarkan darah pada hidung, mulut ataupun telinga belum tentu bisa dikategorikan terkena bakteri bacillus anthracis. Masih ada penyebab lain yang bisa mengakibatkan keluarnya darah seperti tumor atau pembuluh darah yang pecah. Untuk itu perlu dilakukan uji laboratorium. “Kami sudah lakukan uji lab pada salah satu sapi yang mati mendadak, dan hasilnya negatif. Sapi itu memang sebelumnya sudah sakit, dan tidak mau makan,” katanya.

Meski demikian, pihak Disnak tidak mau kecolongan. Berbagai upaya pencegahan pun dilakukan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Di antaranya sapi yang mati tidak boleh dibelah, melainkan harus dikuburkan. Hal lain yakni penyemprotan obat di kandang dan vaksinasi terhadap sapi. Sapi yang masih sehat wajib diamankan. “Kami nyatakan waspada penyakit hewan menular. Dan sejak 20 desembar lalu hingga saat ini sudah tidak ada sapi yang mati mendadak. Kami tetap pantau hingga lima hari kedepan,” jelasnya saat ditemui di ruang kerja Disnak Tulungagung.
Ditanya terkait jalur distribusi hewan, wanita berjilbab itu menjawab tetap ada pantauan. Bukinya ada check point yang dilakukan petugas di lapangan. Namun hal itu dirasa sulit sebab tak sedikit pedagang hewan utamanya sapi menggunakan jalur-jalur tikus utnuk menghindari petugas. Dugaan berbagai modus pun muncul seperti mengganti plat nomor kendaraan agar mudah masuk ke Tulungagung. “Memang masih ada hal semacam itu. namun kami tetap berusaha keras memantau,” imbuhnya.

Dari data Disnak, saat ini Sapi di 12 provinsi tertular antraks. Di antaranya Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jogjakarta, NTT, NTB, Sulawesi selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatra Barat, Jambi dan Jawa Timur yakni Blitar. antraks juga bisa menyerang hewan selain sapi, yakni kambing, domba, kerbau, kuda dan babi. Tidak hanya itu, kelinci, rusa, marmot dan tikus juga bisa terserang antrkas.

Komentar